1. Sumber daya manusia di organisasi masih kurang sadar akan pentingnya Manajemen TI untuk proses bisnis secara TI
  2. 1
    2
    3
    4
    5

  3. Terbatasnya kesadaran dari SDM tentang pemahaman TI terhadap proses bisnis organisasi
  4. 1
    2
    3
    4
    5

  5. Pemahaman SDM organisasi terhadap TI hanya pada manajemen bagian tengah ke atas (mid-top level management)
  6. 1
    2
    3
    4
    5

  7. Adanya dorongan organisasi untuk menggunakan TI dalam mendukung proses bisnis organisasi
  8. 1
    2
    3
    4
    5

  9. Telah dilakukannya penyerapan fungsi TI untuk proses bisnis organisasi
  10. 1
    2
    3
    4
    5

  11. Sumber daya manusia di organisasi masih kurang sadar akan pentingnya Manajemen bisnis
  12. 1
    2
    3
    4
    5

  13. Terbatasnya kesadaran dari SDM tentang pemahaman bisnis terhadap TI sebagai salah satu cara mendukung prose bisnis organisasi
  14. 1
    2
    3
    4
    5

  15. Munculnya kesadaran tentang pemahaman bisnis di lingkungan SDM organisasi
  16. 1
    2
    3
    4
    5

  17. Kesadaran akan potensi bisnis organisasi dengan menggunakan TI
  18. 1
    2
    3
    4
    5

  19. Adanya penyerapan proses bisnis untuk implementasi TI di organisasi
  20. 1
    2
    3
    4
    5

  21. Adanya tim khusus (ad-hoc) yang mempelajari keadaan organisasi secara sederhana (tidak secara khusus dilakukan identifikasi keadaan organisasi)
  22. 1
    2
    3
    4
    5

  23. Proses mempelajari keadaan organisasi dilakukan secara tidak formal
  24. 1
    2
    3
    4
    5

  25. Memiliki waktu yang teratur dan jelas dalam mempelajari kondisi organisasi
  26. 1
    2
    3
    4
    5

  27. Tim khusus yang mempelajari kondisi organisasi melakukan tugasnya dengan kompak dan saling terikat satu sama lain
  28. 1
    2
    3
    4
    5

  29. Dilakukan dengan teliti dan terstruktur
  30. 1
    2
    3
    4
    5

  31. Komunikasi yang berlangsung antar staf TI dikendalikan karena adanya perintah dari manajer TI
  32. 1
    2
    3
    4
    5

  33. Komunikasi berlangsung dengan terbatas, dan dilakuan secara tenang
  34. 1
    2
    3
    4
    5

  35. Dapat memuncul rasa tenang setelah adanya komunikasi dengan staf TI lain
  36. 1
    2
    3
    4
    5

  37. Berkomunikasi secara tenang dan tidak formal (komunikasi santai)
  38. 1
    2
    3
    4
    5

  39. Cara berkomunikasi yang dilakukan tidak begitu formal
  40. 1
    2
    3
    4
    5

  41. Dilakukan secara khusus oleh tim ad-hoc
  42. 1
    2
    3
    4
    5

  43. Proses penyelarasan bersifat semi terstruktur
  44. 1
    2
    3
    4
    5

  45. Penyelarasan bersifat terstruktur hanya pada bagian proses-proses yang dianggap penting
  46. 1
    2
    3
    4
    5

  47. Proses penyelarasan tentang pengetahuan investasi dijadikan kebiasaan oleh organisasi
  48. 1
    2
    3
    4
    5

  49. Perusahaan atau organisasi diikut sertakan dalam proses penyelarasan pengetahuan investasi
  50. 1
    2
    3
    4
    5

  51. Tidak ada penguatan semangat dari rekan kerja dalam tim, atau proses penguatan dilakukan secara ad-hoc (dibuat secara khusus)
  52. 1
    2
    3
    4
    5

  53. Proses penguatan semangat berdasarkan pada terbatasnya strategi teknologi organisasi
  54. 1
    2
    3
    4
    5

  55. Dilakukan secara formal dan dalam pertemuan seperti biasa
  56. 1
    2
    3
    4
    5

  57. Proses penguatan antar rekan kerjat bersifat terikat, dan efektif jika diterapkan pada semua tingkatan di bagian internal organisasi
  58. 1
    2
    3
    4
    5

  59. Perusahaan atau organisasi diikut sertakan dalam proses pengembangan dan penguatan kerjasama organisasi
  60. 1
    2
    3
    4
    5

  61. Pengukuran standar TI secara teknis, tidak ada hubungannya dengan bisnis organisasi
  62. 1
    2
    3
    4
    5

  63. Pengukuran standar TI membuat biaya menjadi efisien
  64. 1
    2
    3
    4
    5

  65. Ukuran standar TI bisa dilihat dari pengelolaan keuangan yang masih tradisional
  66. 1
    2
    3
    4
    5

  67. Biaya yang efektif dapat dipengaruhi dari ukuran standar TI
  68. 1
    2
    3
    4
    5

  69. Ukuran standar TI diperluas sampai mitra eksternal organisasi
  70. 1
    2
    3
    4
    5

  71. Ukuran standar bersifat ad-hoc (khusus), tidak berhubungan dengan penggunaan TI dalam organisasi
  72. 1
    2
    3
    4
    5

  73. Terfokus pada bagian organisasi yang fungsional
  74. 1
    2
    3
    4
    5

  75. Ukuran standar kegiatan bisnis organisasi, dilihat dari pengelolaan keuangan yang masih tradisional
  76. 1
    2
    3
    4
    5

  77. Penentuan standar kegiatan organisasi, berbasis pada pelanggan
  78. 1
    2
    3
    4
    5

  79. Ukuran standar diperluas sampai mitra eksternal organisasi
  80. 1
    2
    3
    4
    5

  81. Pengukuran secara ad-hoc tidak memiliki hubungan antara ukuran TI dan ukuran bisnis organisasi
  82. 1
    2
    3
    4
    5

  83. Tidak ada hubungan antara ukuran tingkat bisnis dan ukuran standar TI
  84. 1
    2
    3
    4
    5

  85. Ukuran dari kemunculan bisnis organisasi dan ukuran standar TI memiliki keterhubungan
  86. 1
    2
    3
    4
    5

  87. Ukuran tingkat bisnis organisasi dan ukuran standar TI memiliki keterhubungan
  88. 1
    2
    3
    4
    5

  89. Ukuran bisnis organisasi, rekan/mitra bisnis dan ukuran standar TI saling berkaitan
  90. 1
    2
    3
    4
    5

  91. Kehadiran layanan di sector TI tidak menentu
  92. 1
    2
    3
    4
    5

  93. Tingkat pelayanan bersifat teknikal hanya pada bagian fungsional
  94. 1
    2
    3
    4
    5

  95. Ada atau munculnya layanan TI di seluruh enterprise atau perusahaan
  96. 1
    2
    3
    4
    5

  97. Penggunaan layanan TI yang luas di berbagai enteprise
  98. 1
    2
    3
    4
    5

  99. Layanan di sektor TI diperluas sampai mitra eksternal organisasi
  100. 1
    2
    3
    4
    5

  101. Model yang ada tidak secara umum dipraktikan di organisasi
  102. 1
    2
    3
    4
    5

  103. Pemodelan dilakukan secara tidak formal
  104. 1
    2
    3
    4
    5

  105. Proses memodelkan TI hanya difokuskan pada proses-proses yang spesifik
  106. 1
    2
    3
    4
    5

  107. Pemodelan dilakukan secara rutin
  108. 1
    2
    3
    4
    5

  109. Pemodelan dilakukan secara rutin dengan mitra organisasi yang lain
  110. 1
    2
    3
    4
    5

  111. Organisasi tidak melakukan proses evaluasi dan revisi terhadap organisasi TI
  112. 1
    2
    3
    4
    5

  113. Organisasi melakukan evaluasi dan revisi terhadap organisasi TI hanya pada beberapa bagian untuk masalah khusus
  114. 1
    2
    3
    4
    5

  115. Evaluasi dan revisi muncul sebagai kegiatan formalitas
  116. 1
    2
    3
    4
    5

  117. Evaluasi dan revisi organisasi TI dilakukan secara formal
  118. 1
    2
    3
    4
    5

  119. Organisasi melakukan kegiatan evaluasi dan revisi secara rutin
  120. 1
    2
    3
    4
    5

  121. Tidak dilakukannya kebiasaan melakukan perbaikan secara berkelanjutan
  122. 1
    2
    3
    4
    5

  123. Minim untuk melakukan perbaikan yang berkelanjutan
  124. 1
    2
    3
    4
    5

  125. Kegiatan perbaikan secara berkelanjutan diperlihatkan
  126. 1
    2
    3
    4
    5

  127. Kegiatan perbaikan dilakukan berkali-kali
  128. 1
    2
    3
    4
    5

  129. Rutin dilakukan perbaikan yang berkelanjutan terhadap TI
  130. 1
    2
    3
    4
    5

  131. Perencanaan strategis organisasi dilakukan secara ad-hoc (dibuat tim khusus untuk melakukan perencanaan strategis organisasi)
  132. 1
    2
    3
    4
    5

  133. Dasar perencanaan strategis ada pada tingkat fungsional organisasi
  134. 1
    2
    3
    4
    5

  135. Beberapa perencanaan strategis dilakukan antar organisasi (inter organizational)
  136. 1
    2
    3
    4
    5

  137. Perencanaan dikelola di seluruh perusahaan (enterprise)
  138. 1
    2
    3
    4
    5

  139. Perencanaan terintegrasi secara menyeluruh sampai bagian luar dari perusahaan
  140. 1
    2
    3
    4
    5

  141. Perencanaan strategi TI secara menyeluruh dilakukan secara ad-hoc (bantuan dari tim ad-hoc)
  142. 1
    2
    3
    4
    5

  143. Perencanaan taktis strategi TI untuk organisasi fungsional
  144. 1
    2
    3
    4
    5

  145. Difokuskan pada perencanaan strategi TI, dan terdapat beberapa perencanaan yang dilakukan antar organisasi
  146. 1
    2
    3
    4
    5

  147. Proses perencanaan dikelola di seluruh perusahaan
  148. 1
    2
    3
    4
    5

  149. Perencanaan terintegrasi secara menyeluruh hingga bagian luar perusahaan
  150. 1
    2
    3
    4
    5

  151. Pelaporan dilakukan terpusat atau dilakukan secara desentralisasi. Dari CIO kepada CFO
  152. 1
    2
    3
    4
    5

  153. Pelaporan dilakukan terpusat atau dilakukan secara desentralisasi. Terkadang dilakukan co-location. Dari CIO kepada CFO
  154. 1
    2
    3
    4
    5

  155. Pelaporan dilakukan terpusat atau dilakukan secara desentralisasi. Terkadang dilakukan pergabungan antara CIO dan COO . Dari CIO kepada COO
  156. 1
    2
    3
    4
    5

  157. Pelaporan digabungkan. Laporan CIO kepada COO ataupun CEO
  158. 1
    2
    3
    4
    5

  159. Pelaporan digabungkan. Laporan CIO kepada CEO
  160. 1
    2
    3
    4
    5

  161. Adanya pusat pembiayaan, karena pengeluaran yang tidak menentu
  162. 1
    2
    3
    4
    5

  163. Adanya pusat pembiayaan oleh organisasi yang fungsional
  164. 1
    2
    3
    4
    5

  165. Adanya pusat pembiayaan, untuk mengatasi beberapa penanaman modal untuk organisai
  166. 1
    2
    3
    4
    5

  167. Adanya investasi yang terpusat
  168. 1
    2
    3
    4
    5

  169. Adanya pengelolaan investasi dan laba (benefit) yang terpusat
  170. 1
    2
    3
    4
    5

  171. Manajemen yang efektif dilihat berdasarkan pembiayaan, dikarenakan pengeluaran dari organisasi tidak menentu
  172. 1
    2
    3
    4
    5

  173. Manajemen yang efektif dilihat berdasarkan pembiayaan, lebih terfokus pada hal operasional dan pemeliharaan / perawatan TI
  174. 1
    2
    3
    4
    5

  175. Dilakukannya manajemen secara tradisional, dimana proses manajemen yang tradisional dianggap sebagai enabler proses bisnis organisasi
  176. 1
    2
    3
    4
    5

  177. Adanya efektifitas pembiayaan, membuat proses manajeman menjadi poros penggerak dari proses bisnis organisasi
  178. 1
    2
    3
    4
    5

  179. Nilai bisnis, dilihat dari diperluasnya mitra bisnis dari luar organisasi
  180. 1
    2
    3
    4
    5

  181. Komite ini bersifat tidak formal / biasa seperti pegawai lainnya
  182. 1
    2
    3
    4
    5

  183. Komunikasi antara komite dan staf TI diatur secara berkala
  184. 1
    2
    3
    4
    5

  185. Cara berkomunikasi antara komite pengarah dengan staf TI dilakukan secara jelas seperti biasanya
  186. 1
    2
    3
    4
    5

  187. Komite pengarah yang efektif dibentuk secara formal
  188. 1
    2
    3
    4
    5

  189. Komite pengarah dibentuk dari kemitraan / rekanan bisnis
  190. 1
    2
    3
    4
    5

  191. Cepat tanggap terhadap suatu proyek yang ada
  192. 1
    2
    3
    4
    5

  193. Sesekali (terkadang) cepat dalam merespon
  194. 1
    2
    3
    4
    5

  195. Lebih banyak cepat dalam merespon
  196. 1
    2
    3
    4
    5

  197. Cepat dalam merespon pekerjaan, menjadi nilai tambah dalam menentukan prioritas
  198. 1
    2
    3
    4
    5

  199. Nilai prioritas ditambahkan untuk mitra bisnis organisasi
  200. 1
    2
    3
    4
    5

  201. TI dianggap sebagai biaya bisnis organisasi
  202. 1
    2
    3
    4
    5

  203. TI muncul sebagai sebuah aset organisasi
  204. 1
    2
    3
    4
    5

  205. TI dipandang sebagai sebuah asset organisasi
  206. 1
    2
    3
    4
    5

  207. TI merupakan bagian dari strategi bisnis organisasi
  208. 1
    2
    3
    4
    5

  209. Bisnis TI bersifat co-adaptif
  210. 1
    2
    3
    4
    5

  211. Tidak adanya peluang TI dalam area bisnis organisasi
  212. 1
    2
    3
    4
    5

  213. Proses bisnis sebagai enabler perencanaan strategis organisasi
  214. 1
    2
    3
    4
    5

  215. Proses bisnis sebagai kemudi (poros penggerak) perencanaan strategis organisasi
  216. 1
    2
    3
    4
    5

  217. Strategi bisnis sebagai enabler atau kemudi proses bisnis
  218. 1
    2
    3
    4
    5

  219. Bisnis TI bersifat co-adaptif
  220. 1
    2
    3
    4
    5

  221. TI mengambil resiko dengan penghargaan yang sedikit dalam pencapaiannya
  222. 1
    2
    3
    4
    5

  223. TI mengambil cukup banyak resiko dengan penghargaan yang sedikit
  224. 1
    2
    3
    4
    5

  225. Adanya toleransi tentang resiko yang diambil, dalam hal ini TI mendapatkan beberapa penghargaan
  226. 1
    2
    3
    4
    5

  227. Penerimaan resiko oleh TI dan penghargaan nantinya dibagikan kepada tim TI
  228. 1
    2
    3
    4
    5

  229. Resiko dan penghargaan akan dibagikan kepada tim kerja proyek
  230. 1
    2
    3
    4
    5

  231. Komunikasi tentang manajemen TI dilakukan secara ad-hoc (secara khusus)
  232. 1
    2
    3
    4
    5

  233. Standar manajemen komunikasi TI dan bisnis didefinisikan
  234. 1
    2
    3
    4
    5

  235. Standar manajemen komunikasi telah ditaati oleh SDM di organisasi
  236. 1
    2
    3
    4
    5

  237. Standar manajemen komunikasi lebih meningkat daripada sebelumnya
  238. 1
    2
    3
    4
    5

  239. Dilakukannya perbaikan yang berkelanjutan tentang manajemen komunikasi TI dan bisnis
  240. 1
    2
    3
    4
    5

  241. Munculnya pertentangan diantara hubungan kerjasama dalam bidang TI (kepercayaan dalam kerjasama cenderung minimal)
  242. 1
    2
    3
    4
    5

  243. Lebih mengutamatakan transaksional daripada kepercayaan
  244. 1
    2
    3
    4
    5

  245. Adanya penghargaan terhadap penyedia layanan
  246. 1
    2
    3
    4
    5

  247. Penyedia layanan yang bernilai
  248. 1
    2
    3
    4
    5

  249. Mitra bisnis yang dihargai
  250. 1
    2
    3
    4
    5

  251. Tidak ada dukungan dari senior manajemen untuk kegiatan TI
  252. 1
    2
    3
    4
    5

  253. Dukungan terbatas pada organisasi yang fungsional
  254. 1
    2
    3
    4
    5

  255. Dukungan ada pada tingkat organisasi fungsional
  256. 1
    2
    3
    4
    5

  257. Dukungan hanya diberikan pada tingkat kualitas TI yang tinggi
  258. 1
    2
    3
    4
    5

  259. Pemberian dukungan ada pada tingkat CEO
  260. 1
    2
    3
    4
    5

  261. Dilakukan secara tradisional (contohnya proses akunting dan penggunaan email)
  262. 1
    2
    3
    4
    5

  263. Proses transaksi menggunakan sistem (contohnya Enterprise Support System dan Decision Support System)
  264. 1
    2
    3
    4
    5

  265. Ruang lingkup TI yang diperluas (contohnya proses bisnis sebagai enabler organisasi)
  266. 1
    2
    3
    4
    5

  267. Pendefinisian kembali ruang lingkup bisnis (contohnya bisa berupa proses bisnis sebagai kemudi organisasi)
  268. 1
    2
    3
    4
    5

  269. Ruang lingkup diambil dari sisi eksternal organisasi, dimana strategi bisnis menjadi enabler atau poros penggerak organisasi
  270. 1
    2
    3
    4
    5

  271. Tidak ada atau dibuat secara ad-hoc
  272. 1
    2
    3
    4
    5

  273. Standar telah terdefinisi
  274. 1
    2
    3
    4
    5

  275. Memperlihatkan standar dari perusahaan / enterprise
  276. 1
    2
    3
    4
    5

  277. Sesuai dengan Standar enterprise
  278. 1
    2
    3
    4
    5

  279. Standar yang ada telah melingkupi standar antar enterprise
  280. 1
    2
    3
    4
    5

  281. Tidak ada integrasi fungsional dari organisasi yang dilakukan secara formal
  282. 1
    2
    3
    4
    5

  283. Dilakukan kegiatan inisiasi awal untuk melakukan integrasi dengan proses bisnis TI yang lainnya
  284. 1
    2
    3
    4
    5

  285. Proses integrasi dilakukan untuk seluruh enterprise
  286. 1
    2
    3
    4
    5

  287. Diintegrasikan dengan mitra bisnis enterprise
  288. 1
    2
    3
    4
    5

  289. Organisasi yang fungsional berkembang dengan mitra bisnis
  290. 1
    2
    3
    4
    5

  291. Tidak dilakukannya integrasi yang dilakukan secara formal
  292. 1
    2
    3
    4
    5

  293. Dilakukan kegiatan inisiasi awal untuk melakukan integrasi
  294. 1
    2
    3
    4
    5

  295. Proses integrasi dilakukan untuk seluruh enterprise
  296. 1
    2
    3
    4
    5

  297. Diintegrasikan dengan mitra bisnis enterprise
  298. 1
    2
    3
    4
    5

  299. Perusahaan ikut berkembang dengan mitra bisnisnya
  300. 1
    2
    3
    4
    5

  301. Tidak dilakukannya integrasi yang dilakukan secara formal
  302. 1
    2
    3
    4
    5

  303. Dilakukan kegiatan inisiasi awal untuk melakukan integrasi
  304. 1
    2
    3
    4
    5

  305. Proses integrasi dilakukan untuk seluruh enterprise
  306. 1
    2
    3
    4
    5

  307. Diintegrasikan dengan mitra bisnis enterprise
  308. 1
    2
    3
    4
    5

  309. Perusahaan ikut berkembang dengan mitra bisnisnya
  310. 1
    2
    3
    4
    5

  311. Tidak ada transparansi dan fleksibilitas arsitektur
  312. 1
    2
    3
    4
    5

  313. Transparansi dan fleksibilitas terbatas
  314. 1
    2
    3
    4
    5

  315. Arsitektur difokuskan untuk urusan komunikasi
  316. 1
    2
    3
    4
    5

  317. Memperlihatkan efektifitas dari adanya manajemen teknologi
  318. 1
    2
    3
    4
    5

  319. Melewati infrastruktur TI yang sudah ada
  320. 1
    2
    3
    4
    5

  321. Tidak ada dorongan untuk berinovasi (putus asa dalam melakukan inovasi)
  322. 1
    2
    3
    4
    5

  323. Dorongan tergantung pada organisasi yang fungsional
  324. 1
    2
    3
    4
    5

  325. Adanya toleransi terhadap resiko yang diambil
  326. 1
    2
    3
    4
    5

  327. Dorongan lingkungan untuk berinovasi akan berhubungan dengan enterprise, mitra bisnis dan manajer TI
  328. 1
    2
    3
    4
    5

  329. Munculnya dorongan akan mengikuti norma lingkungan yang ada
  330. 1
    2
    3
    4
    5

  331. Lokasi ada di dalam bisnis perusahaan
  332. 1
    2
    3
    4
    5

  333. Terdapat dalam bagian organisasi yang fungsional
  334. 1
    2
    3
    4
    5

  335. Kekuatan TI muncul di seluruh bagian dalam proses bisnis organisasi
  336. 1
    2
    3
    4
    5

  337. Ada di seluruh bagian organisasi
  338. 1
    2
    3
    4
    5

  339. Dibagian eksekutif secara menyeluruh, termasuk CIO dan rekan bisnis
  340. 1
    2
    3
    4
    5

  341. Perusahaan atau organisasi selama ini telah tahan terhadap perubahan yang ada
  342. 1
    2
    3
    4
    5

  343. Bergantung pada organisasi yang fungsional di perusahaan
  344. 1
    2
    3
    4
    5

  345. Diperlukan adanya perubahan dalam organisasi
  346. 1
    2
    3
    4
    5

  347. Jika kebutuhan untuk melakukan perubahan tinggi, maka akan difokuskan untuk melakukan perubahan
  348. 1
    2
    3
    4
    5

  349. Jika kebutuhan untuk melakukan perubahan tinggi, maka akan difokuskan untuk melakukan perubahan
  350. 1
    2
    3
    4
    5

  351. Tidak terdapat kesempatan untuk bertukar pekerjaan (job turning)
  352. 1
    2
    3
    4
    5

  353. Pertukaran pekerjaan dilakukan secara minimum
  354. 1
    2
    3
    4
    5

  355. Job turning bergantung pada organisasi fungsional
  356. 1
    2
    3
    4
    5

  357. Job turning dilakukan di seluruh organisasi fungsional
  358. 1
    2
    3
    4
    5

  359. Dilakukan di seluruh bagian perusahaan
  360. 1
    2
    3
    4
    5

  361. Tidak ada kesempatan untuk belajar di lintas pekerjaan
  362. 1
    2
    3
    4
    5

  363. Pelatihan antar divisi TI dilakukan secara minimum
  364. 1
    2
    3
    4
    5

  365. Bergantung pada organisasi fungsional
  366. 1
    2
    3
    4
    5

  367. Dilakukan hanya pada organisasi fungsional
  368. 1
    2
    3
    4
    5

  369. Dilakukan di seluruh bagian organisasi bisnis
  370. 1
    2
    3
    4
    5

  371. Kooperasi sosial di lingkungan tidak berdampak begitu signifikan
  372. 1
    2
    3
    4
    5

  373. Mengutamakan proses transaksional
  374. 1
    2
    3
    4
    5

  375. Keadaan kooperasi sosial yang baik dapat memperlihatkan penyediaan layanan yang bernilai juga
  376. 1
    2
    3
    4
    5

  377. Penyediaan layanan yang bernilai
  378. 1
    2
    3
    4
    5

  379. Kooperasi sosial dianggap sebagai mitra bisnis yang bernilai
  380. 1
    2
    3
    4
    5

  381. Gaya manajemen bisnis yaitu memerintah dan memberikan kontrol
  382. 1
    2
    3
    4
    5

  383. Cara manajemen bisnis dilakukan berdasarkan konsensus yang ada
  384. 1
    2
    3
    4
    5

  385. Dilakukan berdasarkan hasil atau capaian perusahaan
  386. 1
    2
    3
    4
    5

  387. Gaya manajemen bisnis dipengaruhi leh laba atau nilai bisnis yang dimiliki
  388. 1
    2
    3
    4
    5

  389. Gaya manajemen bisnis berdasarkan pada hubungan kerja sama dengan pihak luar
  390. 1
    2
    3
    4
    5